Minggu, 27 September 2009

Makna Musik dalam Liturgi

Makna Musik Dalam Liturgi
(Sumber: Buku Pengantar Liturgi, E. Martasudjita, Pr, hal 123-128)

Mengapa Liturgi Gereja perlu menggunakan musik sebagai bentuk ungkapan perayaan iman? Marilah kita tengok ke belakang. Musik merupakan sebuah seni non verbal yang terlahir secara luar biasa dalam sejarah kehidupan manusia. Musik digunakan untuk mengungkapkan emosi, perasaan, gejolak jiwa dari diri manusia. Dengan kata lain, musik menjadi salah satu bagian ungkapan dan media komunikasi manusia. Jika manusia tidak dapat menyampaikan dalam kata-kata, musik menjadi jembatan untuk mengungkapkannya. Musik menjadi simbolisasi diri manusia. Hampir setiap suatu suku atau ras bangsa di dunia melahirkan keunikan musik tertentu. Tapi tentu perlu diingat bahwa mereka tidak langsung mengenalnya dengan sebutan “musik”.
Istilah “musik” berasal dari bahasa Yunani mousike, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin musica. Menurut asal-usul kata, kata benda mousike ini dibentuk dari akar kata mousa. Mousa adalah nama salah satu dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam mitos Yunani. (Mitos adalah pengetahuan manusia tradisional untuk memaknai asal-usul sesuatu yang berasal dari alam semesta). Namun, perkembangan istilah musik dalam sejarah tidak terlalu jelas.
Istilah musik yang kita gunakan dalam Liturgi Gereja disebut musica ecclesiastica. Sedangkan musik Gereja disebut musica sacra. Gereja memiliki Kongregasi Suci yang mengatur soal Ibadat berkenaan instruksi musik liturgi. “Musica sacra yang digunakan mencakup nyanyian Gregorian, berbagai jenis musik Gereja yang lama maupun baru, musik Gereja Orgel dan alat musik yang diijinkan.”

a. Rentetan Singkat Sejarah Musik Gereja
Musik liturgi Gereja perdana berakar pada tradisi musik ibadat Yahudi yang kemungkinan besar tidak diiringi oleh alat musik.
Praktek musik nyanyian Gereja Perdana tercermin jelas dalam surat Efesus dan Kolose yang menganjurkan umat agar menyanyikan kidung puji-pujian dalam pertemuan jemaat “bagi Tuhan dengan segenap hati”(Ef 5:19; Kol 3:16).
Ada banyak madah dan kidung yang kemungkinannya berasal dari tradisi liturgis, seperti Luk 1:46-55, 1:68-79; Yoh 1:1-18;Flp 2:6-11; Kol 1:15-20.
Nyanyian yang sudah ada dipakai oleh jemaat dalam bentuk buku Mazmur, sebagai contoh lagu kemuliaan (Gloria) dan Te Deum.
Masuknya Gereja pada masa kekaisaran Romawi pada abad IV membawa dampak yang besar dalam liturgi dan musiknya. Musik dibawakan secara meriah. Lalu muncul model nyanyian Mazmur secara responsorial.
Awal abad VII Paus Gregorius Agung (590-604) mengatur secara baru lagu Gregorian, khususnya untuk keperluan misa kudus dan ibadat harian. Pada zaman Carolus Agung, lagu Gregorian dikenal baik di daerah Eropa pada abad VIII. Alat musik orgel pun akhirnya di pergunakan dalam liturgi Ekaristi mulai di kekaisaran.
Konsili Trente (1545-1563) menyatakan agar para uskup menghindari pencampuradukan nyanyian dan musik Gereja dengan nyanyian dan alat musik yang tidak sesuai dengan kekristenan.
Pada zaman modern, musik Gereja zaman Barok (abad 17 dan 18) menekankan emosi, dan dinamis hidup. Muncul anek konser dan opera untuk menampilkan kemegahan musik Gereja.
Pada zaman Klasik (abad ke-18 dan 19 awal) musik lebih menonjolkan kesederhanaan melalui musik instrumental (Mozart, Haydn dan Beethoven).
Pada zaman Romantik (abad XIX), musik Gereja menekankan perasaan batin sebagai lawan tendensi rasional di zamannya.
Paus Pius X menetapkan dokumen tentang musik Gereja (tahun 1903) yang menyatakan bahwa musik Gereja tidak terpisahkan dari Liturgi Gereja.

b. Peranan musik dalam Liturgi (Konteks Konsili Vatikan II)
Peranan musik dalam liturgi (Konsili Vat. II) dirumuskan dalam 3 poin:
Dimensi liturgis: musik sebagai bagian liturgi sendiri.
Musik dalam liturgi bukan sekadar membuat perayaan liturgi menjadi meriah, melainkan menjadi bagian liturgi yang penting dan integral khususnya berpuncak pada bagian dari Doa Syukur Agung. Dengan kata lain, Musik melayani Liturgi. Kriteria utama musik liturgi ialah bagaimana suatu lagu dapat membantu orang dalam menemukan perjumpaan bersama Tuhan dan sesama, contoh: Salam Damai, anak Domba Allah.
Dimensi Eklesiologis: Musik mengungkapkan partisipasi aktif umat. Vatikan II mengajak untuk turut aktif dalam perayaan liturgi secara sadar. Musik liturgi memungkinkan umat untuk lebih menangkan sabda Tuhan dan kurnia sakramen yang dirayakan. Perlu kita sadari bahwa lagu dapat ikut membangun kebersamaan umat beriman yang sedang beribadat. Maka, kriteria musik liturgi di dalam umat hendaknya disesuai dengan citarasa umat setempat.
Dimensi Kristologis: Musik memperjelas Misteri Kristus. Melalui isi syairnya, musik diharapkan dapat ikut memperdalam misteri iman akan Yesus Kristus sendiri. Namun, patut diperhatikan bahwa musik liturgi tersebut harus sesuai dengan ajaran iman Gereja. Musik yang tepat adalah musik yang mampu membantu umat merenungkan misteri iman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar